Tampilkan postingan dengan label hukum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hukum. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Oktober 2016

Hukum Operasi Plastik Dalam Islam


PERTANYAAN :

Mau tanya perihal operasi plastik dalam hukum Islam…

JAWABAN :
Awan As-Safaritiyy Asy-syaikheriyy
Hasil Bahtsul Masail PWNU Jatim 1986 di PP. Asembagus Situbondo
Bagaimana hukumnya operasi plastik di wajah?Dan Sahkah wudhuknya?
Jawab :
Operasi plastic pada wajah termasuk katagori تغيير خلق الله (merubah ciptaan Allah) yg dilarang oleh syara’.Kecuali ada kebutuhan yg dibenarkan oleh syara’,seperti dalam rangka pengobatan atau pemulihan akibat kecelakaan dan sejenisnya.Tentang wudlunya ditafsil.Apabila sudah التحام (menyatu/melekat) maka sah,dan apabila belum,maka tidak sah.

http://www.umatnabi.com/2016/10/hukum-operasi-plastik-dalam-islam.html

Dasar pengambilan :
1. QS. An-Nisa’ : 119
وَلأضِلَّنَّهُم�' وَلأمَنِّيَنَّهُم�' وَلآمُرَنَّهُم�' فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الأن�'عَامِ وَلآمُرَنَّهُم�' فَلَيُغَيِّرُنَّ خَل�'قَ اللَّهِ وَمَن�' يَتَّخِذِ الشَّي�'طَانَ وَلِيًّا مِن�' دُونِ اللَّهِ فَقَد�' خَسِرَ خُس�'رَانًا مُبِينًا
Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka,dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak),lalu mereka benar-benar memotongnya,dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah),lalu benar-benar mereka merubahnya.Siapapun yg menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah,Maka Sesungguhnya ia menderita kerugian yg nyata.

1. Is’adu ar-Rofiq, Juz I, Hlm. 122
فىِ خَبَرِ الصَّحِي�'حَي�'نِ : لَعَنَ اللهُ ال�'وَاصِلَةَ وَا�'لوَاشِمَةَ وَال�'مُس�'تَو�'شِمَةَ وَال�'وَاشِرَةَ وَال�'مُس�'تَو�'شِرَةَ وَالنَّامِصَةَ وَال�'مُن�'تَمِصَةَ.
Di dalam hadits Imam Bukhari dan Muslim:(yg artinya) Allah melaknat perempuan yg menyambung rambutnya dengan rambut orang lain,dan orang yg membuat tato dan yg ditatonya,dan orang yg meruncingkan (memangir) giginya dan yg dipangurnya.Dan orang yg menghilangkan rambut muka (mengerik alis/bulu lentik) dan yg dikeriknya.

1. Is’adu ar-Rofiq,Juz I, Hlm. 123
أَمَّا لَوِ اح�'تَاجَت�' إِلَي�'هِ لِنَح�'وِ عَي�'بٍ فِى السِّنِّ أَو�' عِلاَجٍ فَلاَ بَأ�'سَ بِهِ كَمَا قَالَهُ ال�'كُر�'دِىّ.
Adapun apabila ada hajat/kebutuhan yg mendesak dalam memangur giginya,seperti cacat didalam gigi,atau utk mengobati maka tidak apa-apa (boleh) perbuatan tersebut,seperti yg telah dikatakan oleh Imam Kurdi.

1. Fathu al-Bari,Juz X, Hlm. 273
قَو�'لُهُ : (وَال�'مُتَفَلِّجَاتِ لِل�'حُس�'نِ) يُف�'هَمُ مِن�'هُ أَنَّ ال�'مَذ�'مُومَةَ مَن�' فَعَلَت�' ذَلِكَ ِلأَج�'لِ ال�'حُس�'نِ فَلَو�' اِح�'تَاجَت�' إِلَى ذَلِكَ لِمُدَاوَاةٍ مَثَلاً جَازَ.
(Dan orang-orang yg merenggangkan giginya,utk memperindah).Dari situ dapat diambil kefahaman,bahwa yg tercela (tidak boleh) itu,merenggangkan gigi yg bertujuan utk mempercantik/memperindah.Namun seandainya hal tersebut diperlukan,seperti utk mengobati,maka diperbolehkan.
Baca Juga:Hukum Mengangkat Tangan Dan Mengusap Wajah Ketika Berdo'a
1. al-Qulyubi, Juz I, Hlm. 39
وَيَجِبُ غَس�'لُ يَدٍ ال�'تَصَقَت�' فِي مَحَلِّ يَدِهِ وَلَو�' مِن�' غَي�'رِ صَاحِبِهَا بَع�'دَ قَط�'عِهَا بِحَرَارَةِ الدَّمِ، بِحَي�'ثُ يُخ�'شَى مِن�' إزَالَتِهَا مَح�'ذُورُ تَيَمُّمٍ، وَيَجِبُ غَس�'لُ ظَاهِرِ كَفٍّ أَو�' أُص�'بُعٍ مِن�' نَح�'وِ نَق�'دٍ، وَغَس�'لُ مَو�'ضِعِ شَو�'كَةٍ إن�' كَانَ لَو�' قُلِعَت�' لاَ يَن�'طَبِقُ مَو�'ضِعُهَا، وَلاَ يَصِحُّ ال�'وُضُوءُ مَعَهَا وَإِلاَّ فَلاَ
Wajib membasuh tangan yg sudah melekat pada tempatnya tangan meskipun bukan hanya tangan muliknya,setelah diputuskan dengan menyatunya/mengalirkan darah,sekira membahayakan apabila dihilangkan sampai batas bahaya yg memperbolehkan tayammum.Dan wajib mencuci luarnya telapak tangan pada tempatnya,dan tidak sah wudlu bersama penghalang,kalau tidak menjadi penghalang tetapi sudah menjadi satu maka tidak wajib membasuh bekas dzahir potongan.
ذكر فيه حديث ابن مسعود الماضي في «باب المتفلجات» قال الطبري : لا يجوز للمرأة تغيير شيء من خلقتها التي خلقها الله عليها بزيادة أن نقص التماس الحسن لا للزوج ولا لغيره كمن تكون مقرونة الحاجبين فتزيل ما بينهما توهم البلج أو عكسه، ومن تكون لها سن زائدة فتقلعها أو طويلة فتقطع منها أو لحية أو شارب أو عنفقة فتزيلها بالنتف، ومن يكون شعرها قصيراً أو حقيراً فتطوله أو تغزره بشعر غيرها، فكل ذلك داخل في النهي. وهو من تغيير خلق الله تعالى. قال : ويستثنى من ذلك ما يحصل به الضرر والأذية كمن يكون لها سن زائدة تؤذيها أو تؤلمها فيجوز ذلك، والرجل في هذا الأخير كالمرأة، وقال النووي : يستثنى من النماص ما إذا نبت للمرأة لحية أو شارب أو عنفقة فلا يحرم عليها إزالتها بل يستحب. قلت : وإطلاقه مقيد بإذن الزوج وعلمه، وإلا فمتى خلا عن ذلك منع للتدليس. وقال بعض الحنابلة : إن كان النمص أشهر شعاراً للفواجر امتنع وإلا فيكون تنزيهاً، وفي رواية يجوز بإذن الزوج إلا إن وقع به تدليس فيحرم، قالوا ويجوز الحف والتحمير والنقش والتطريف إذا كان بإذن الزوج لأنه من الزينة. وقد أخرجه الطبري من طريق أبي إسحق عن امرأته أنها دخلت على عائشة وكانت شابة يعجبها الجمال فقالت : المرأة تحف جبينها لزوجها فقالت : أميطي عنك الأذى ما استطعت. وقال النووي : يجوز التزين بما ذكر، إلا الحف فإنه من جملة النماص.
فتح الباري ج 11 ص 575 

Sabtu, 18 Juni 2016

Hukum Menipiskan Alis Dalam Agama Islam

Hukum Menipiskan Alis Dalam Agama Islam,Satu diantara langkah berhias berlebihan lebihan yg diharamkan Islam yaitu mencukur rambut alis mata utk ditinggikan atau disamarkan.Dalam hal semacam ini Rasulullah saw sempat melaknatnya,seperti dalam hadis tersebut .

Rasulullah saw melaknat perempuan yg mencukur alisnya atau minta dicukurkan alisnya (HR Abu Daud)
Lebih diharamkan lagi bila mencukur alis itu ditangani utk lambang buat wanita nakal.

Sesaat ulama mazhab Hambali mempunyai pendapat bahwasanya wanita diperkenankan mencukur rambut dahinya,mengukir,berikan cat merah serta meruncingkan ujung matanya jika dengan izin suaminya lantaran hal itu terhitung berhias.
Hukum Menipiskan Alis Dalam Agama Islam

Hukum Menipiskan Alis dalam Islam

Hukum Menipiskan Alis Dalam Agama Islam

Namun,oleh Imam Nawawi diperketat bahwasanya mencukur rambut dahi itu sekalipun tak bisa.Dibantahnya hal semacam itu dengan membawakan kisah yg itu dalam sunan Abu Daud,yaitu bahwasanya yg dimaksud namishah (mencukur alis) hingga tidak tebal sekali. Karena,tak terhitung hiasi muka dengan menghillangkan bulu bulunya.

Imam Thabari meriwayatkan dari istrinya Abu Ishak bahwasanya satu saat dia sempat ke rumah Aisyah,tengah istri Abu Ishak saat itu tetap gadis jelita.Lalu dia ajukan pertanyaan,
Baca juga: Penyakit Yang Sangat Berbahaya Untuk Wanita
“Bagaimana hukumnya wanita yg hiasi mukanya utk kepentingan suaminya? ”Maka,jawab Aisyah,“Hilangkanlah kejelekan kejelekan yg ada pada anda itu sadapat mungkin”. 

Kamis, 31 Maret 2016

Hukum Memanjangkan Kuku Dalam Islam

Ini Hukum Memanjangkan Kuku Dalam Islam
Kuku yg cantik dan terawat tentu menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Keberadaannya semakin mencuri perhatian dengan banyaknya bentuk perawatan yg bisa dilakukan.

Semakin panjang, kuku yg terawat semakin memperindah lentik ruas-ruas jari. Tidak heran, baik wanita maupun pria banyak yg memanjangkan kuku-kukunya. Tujuannya adalah utk menunjang penampilan dan menambah rasa percaya diri.

Namun bagi Umat Islam, ada baiknya mencermati terlebih dahulu sebelum ikut memanjangkan kuku dan menghiasnya. Karena apapun hukum yg diterapkan, mempunyai alasan tersendiri utk diikuti. Maka apa hukum memanjangkan kuku dalam Islam?
Agama Islam sangat memperhatikan kebersihan umatnya. Termasuk kuku pun, tidak luput dari perhatian agama yg dibawa Nabi Muhammad SAW ini. Ternyata memanjangkan kuku bertentangan dengan Agama Islam.
Biasanya ulama berpendapat bahwa hukum memanjangkan kuku adalah makruh. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yg artinya :

“Ada lima macam fitrah, yaitu : khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak. ” (HR. Bukhari no. 5891 dan Muslim no. 258)

Dari hadist di atas dapat diketahui bahwa memotong kuku ialah ajaran para nabi. Hal ini sesuai dengan fitrah manusia yg dijelaskan dalam hadist di atas.

http://sunnahsunni.blogspot.com/2016/03/hukum-memanjangkan-kuku-dalam-islam.html


Sebagai bentuk penekanan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan pernah memberi batas waktu kepada para sahabat utk memotong kuku mereka. Jika lebih dari waktu tersebut, menurut Imam Asy Syaukani dalam Nailul Author maka hukumnya menjadi haram. Hal ini berdasarkan hadist berikut :

Sahabat Anas bin Malik mengatakan, “Kami diberi batasan dalam memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, agar tidak tidak dibiarkan lebih dari 40 hari. ” (HR. Muslim 258).

Menurut Imam Nawawi kuku yg panjang berpotensi menjadi sarang penyakit. Tidak hanya itu, meski bersih, kuku juga berpotensi menghalangi air wudhu masuk ke sela-sela kuku sehingga wudhu menjadi tidak sempurna. Namun jika kuku pendek, potensi air wudhu bisa membersihkan bagian jari akan semakin besar. Akan tetapi, semalas-malasnya orang, maksimal kukunya harus dipotong dalam 40 hari.

Selasa, 29 Maret 2016

Inilah Jawaban Apakah Sah Wudhu jika Wanita Memakai Pewarna Kuku

Apakah Sah Wudhu Wanita Yg Pakai Kutek? Ini Jawabannya
Tren memakai kutek bagi wanita saat ini memang semakin marak.Terlebih dengan beraneka warna dan corak yg semakin memperidah kuku, membuat wanita kerap menggunakan dalam keseharian. Jika dulu orang menghias kuku hanya dengan inai atau pacar kuku, maka kini varian cat kuku atau kutek berbahan kimia sangat banyak, dan desain menghias kuku pun juga beragam.

Dengan berbagai varian yg berbeda bahan tadi tentu akan mempengaruhi kuku sehingga tertutupi ketika melaksanakan wudhu.Maka sah kah wudhu wanita yg memakai kutek? Bagaimana dengan pemakaian inai atau pacar kuku yg juga berfungsi utk memperindah kuku? Beriku ulasannya.

Sebenarnya islam memperbolehkan wanita utk memperindah kukunya.Pasalnya seni yg disebut dengan nail art ini dahulunya juga kerap dilakukan wanita Islam,namun bukan dengan menggunakan kutek yg berbahan kimia seperti sekarang, akan tetapi menggunakan inai atau pacar.

Islam memperbolehkan wanita memakai kutek,namun hanya terbatas untuk mereka yang sedang berada dalam keadaan haid dan nifas. Ini artinya,wanita yang sedang dalam kondisi wajib salat tidak diperbolehkan menggunakan kutek.

http://sunnahsunni.blogspot.com/2016/03/inilah-jawaban-apakah-sah-wudhu-jika.html


Sifat cat kuku berbahan kimia sejatinya menghalangi jalannya air saat melaksanakan wudhu. Cat kuku adalah serupa adonan yang menempel di kuku sehingga ada lapisan yang dapat menghalangi mengalirnya air. Padahal, segala sesuatu yg menghalangi jalannya air pada bagian tubuh yang harus disucikan dalam mandi dan berwudhu tidak boleh dipergunakan, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman :

“Artinya : Maka basuhlah mukamu dan tanganmu”. Al-Maidah : 6.

Jika menghias kuku dengan menggunkan kutek tidak boleh, bagaimana dengan inai atau pacar kuku? Berbeda dengan kutek, inai merupakan bahan mempercantik kuku yang memberikan pewarnaan saja, namun tidak merubah ketebalan kuku atau membuat lapisan di atas kuku. Sehingga air yang digunakan untuk wudhu tidak terhalang oleh lapisan lain dan bisa membersihkan kuku. penggunaan inai ini tidak dicampur dengan sesuatu yang dapat menghalangi jalannya air,maka boleh menghias kuku dengan inai.

Selain itu,satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah faktor keamanan dan kesehatan. Kutek atau cat kuku yang banyak bermunculan saat ini tidak lagi sama dengan kutek jaman dahulu yang berbahan alam Kutek yang banyak sekarang ini diracik dari campuran berbagai macam bahan kimia yang tentunya jika terlalu sering digunakan juga akan berdampak negatif untuk kesehatan kuku dan bagian tubuh lainnya yang terpapar zak kimia berbahaya.Dan tentunya, seperti yang kita ketahui,segala sesuatu yang membahayakan diri sendiri dan orang lain itu hukumnya terlarang. Wallahu a’lam.

Semoga informasi ini menambah pengetahuan kita terhadap hal-hal yang biasa kita lakukan dan mungkin bertentangan dengan ajaran Islam. Terimakasih sudah membaca.